Mau Nikmati Kopi Terbaik? SOMA Coffee Tempatnya

Area Gelora Bung Karno (GBK) saat ini telah dipadati UMKM, salah satunya SOMA Coffee yang punya konsep sederhana dengan produk terbaik!

SOMA Coffee merupakan sebuah kedai kopi yang sederhana dengan menjual produk-produk terbaiknya. Berada di Gelora Bung Karno, Selasar Timur Stadion Akuatik, Jl. Stadion Senayan, RT.1/RW.3, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat 10270.

Ketika tim Coffeetimes.id berkunjung ke gerai SOMA Coffee, kesan yang ditunjukkan adalah kesederhanaan dan ramah.

Dari segi tempat, gerai SOMA Coffee tidak dibuat terlalu besar, hanya cukup untuk 20 sampai 30 orang untuk indoor dan outdoor. Tapi punya komitmen jelas dengan menjual produknya yang terbaik.

Sebenarnya apa sih SOMA Coffee?

SOMA Coffee ini merupakan usaha hilir dari Javanero yang merupakan produsen kopi dan membina petani di kebun sehingga memiliki produksi kopi yang lebih bagus dan kualitasnya meningkat.

Javanero merupakan produsen kopi yang berdiri sejak 2014, meng-eksport produknya ke mancanegara, yang terbesar akhir-akhir ini New Zealand dengan sistem beli putus, lalu ada Amerika, di Eropa tepatnya di Belgia dan Swedia.

SOMA Coffee baru didirikan tahun 2016 di Arkadia sebagai gerai pertama, kemudian di Bandung pada 2017 namun ditutup dahulu, dan buka gerai juga di Singapura pada tahun 2017.

Untuk gerai di GBK baru berdiri tahun 2019, bersama dengan gerai Bandung yang kembali dibuka namun dengan konsep berbeda.

Alasan membuat SOMA Coffee ini Marcel Irwanto, Direktur Utama sekaligus Founder SOMA Coffee menjelaskan bahwa perusahaannya perlu tempat untuk mencoba hasil kopinya.

“Kami selama berjalan kegiatan eksport itu selalu ada pelanggan yang bertanya, ‘di mana tempat untuk mencoba hasil kopinya?’ nah, karena hal itu yang memicu kami buat hilirnya yaitu SOMA Coffee,” jelasnya sambil tersenyum.

Kenapa diberi nama SOMA Coffee?

Marcel bercerita pada tim Coffeetimes.id tentang filosofi nama dari SOMA Coffee tersebut. Bukan nama yang asal bagus dan asal pilih, namun sengaja mengambil nama yang agar jadi doa bagi usahanya untuk berjalan dengan baik.

“Kenapa namanya tidak kami ambil Javanero saja, karena secara bisnis kami tidak mau menggabungkan antara hulu dan hilirnya, SOMA itu nama generik, dan ada filosofinya.” ungkap Marcel bersemangat

Jika dalam bahasa Sunda, SOMA itu berarti bulan yang sedang bersinar, SOMA adalah bulan, tapi jika dalam bahasa Sansekerta berarti minuman yang baik.

Baca Juga: Kopi Java Preanger, Salam Dari Bumi Priangan!

Maka jika dikaitkan, harapannya SOMA Coffee ini bisa jadi hal yang baik dan memberi warna lain di dunia retail perkopian.

Awalnya, SOMA Coffee hanya menjual untuk specialty coffee yang punya grading coffee di atas 80, namun saat ini sudah lebih fleksibel tapi tidak mengurangi kualitasnya.

Sederhana tapi gak sembarangan!

Konsepnya memang SOMA Coffee hanya menggunakan lokasi sederhana dan tidak besar, tapi punya visi untuk memberi edukasi pada penikmat kopi, bahwa di lokasi sederhana, kopinya tidak sembarangan.

“Kalau di Arkadia untuk konsep bangunannya kami gunakan konteiner, kalau yang di Bandung konsep bangunannya hanya semacam booth dan hanya untuk take away saja dekat Unisba.” tambahnya

Untuk pemilihan cabang di Singapura, Marcel menceritakan bahwa itu tidak direncanakan sebelumnya.

“Mungkin terdengar lucu, untuk gerai di Singapura itu sebenarnya tidak direncanakan sama kami, tapi partner kami jadi PR di sana, maka dia setiap kali harus pulang pergi 6 bulan di Singapura dan 6 bulan di Indonesia. Akhirnya daripada dia pulang pergi memakan banyak waktu dan tenaga, sekalian saja kami buat di sana, biar lebih mudah dan bisa buka pasar di sana.” ungkapnya bangga

Dari segi pelanggan, Marcel membaginya jadi pelanggan untuk hulu yaitu para roastery dari banyak Negara yang membutuhkan supply kopi.

“kami itu jarang yang direct langsung ke satu warung kopi sendiri, tapi kalo di Indonesia kami bisa supply langsung ke warung kopinya.” jelasnya

Sementara pasar untuk SOMA Coffee, Marcel lebih fokus pada pasar komunitas, untuk di GBK ada banyak olahragawan dan orang-orang yang berkegiatan di sekitar area GBK Akuatik, komunitas berlari, sepeda dan musik. Tepatnya, mereka yang mapan atau menengah ke atas.

“Kopi itu sebenarnya hanya produk sampingan bukan utama, karena orang banyak yang datang tidak khusus untuk ngopi, biasanya mereka melakukan kegiatan apa, sambil ngopi. Jadi kami buat di sini, selagi orang berolahraga atau mengantar anaknya berenang mereka bisa ngopi di sini.” Tambahnya lagi

Pasar SOMA Coffee memang yang menengah ke atas, tapi tetap ada kopi susu dengan grade arabika yang sedikit diturunkan namun memiliki rasa yang sama.

Baca Juga: Kopi Arabika Cibulao, Cita Rasa Ubi Cilembu!

“Kami ingin orang menikmati kopi beneran, bukan kopi gunting, karena kopi itu kan digiling.” pungkasnya

SOMA Coffee ingin menjangkau semua kalangan, jadi walau mereka spesialis kopi, tapi juga menyediakan menu-menu bagi orang yang memang tidak minum kopi atau mencari pilihan lain selain kopi.

Untuk di Singapura, tidak hanya menjual kopi, tapi juga produk Indonesia non-kopi, seperti coklat, kelapa dan sebagainya. Bahkan, di sana jadi tempat berkumpulnya para petinggi perdagangan dari berbagai negara untuk mencari produk Indonesia.

Semua yang dijual adalah andalan!

“Kami menjual biji kopi, green bean pun kami jual untuk kopi-kopi specialty kami bisa siapkan ukuran kecil 5 -10 kilo. Semua yang kami jual ini andalan, karena kami sempat memenangkan kontes di Paris tahun 2018, disebutnya sebagai gourmet,” ungkap Marcel bangga sambil menunjukkan sertifikatnya

Jika bicara yang paling disukai, adalah kopi Pasundan, tapi sebenarnya kopi itu menyerap lingkungan, saat di sekitar tanaman kopi ada tanaman lain, misalnya coklat atau nangka, taste dari tanaman itu akan masuk ke dalam kopi tersebut.

Berbeda dengan robusta yang memang bisa hidup dimana saja, di bawah 800 meter, arabika ini akan baik ditanam pada ketinggian di atas 800 meter dan kandungan kafein robusta pun lebih tinggi dari arabika.

Baca Juga: Mengenal Kopi Kalosi Enrekang, Keistimewaan hingga Faktanya!

Oleh sebab itu, SOMA Coffee lebih fokus menjual arabika, walaupun lebih mahal, tapi kualitasnya tidak main-main.

“kalo robusta rasanya bisa jadi flat hanya pahit seperti kopi instant dan kopi-kopi yang dijual cukup murah saat ini. Kalau arabika, manual brew dengan roasting yang medium, akan bisa merasakan rasa coklat, citrus dan lainnya yang lebih kaya.” Katanya menambahkan

Untuk sumber kopi baik yang dijual berupa biji kopi atau untuk dijadikan minuman, saat ini dari Bandung Ciwidey, Gunung Tilu, dan dari Garut – Papandayan. Tapi sebenarnya ada juga dari Flores, Bali, Sumatera daerah Toba, tapi karena pandemi Covid-19 tidak bisa menjangkau daerah tersebut.

Masih pandemi Covid-19, lalu aman ke sana?

Memang pandemi ini sangat berdampak bagi SOMA Coffee, karena tak hanya eksport yang harus terhenti, gerai SOMA Coffee pun tidak bisa berjualan.

Akhirnya saat itu, menyiasati dengan ikut membuat layanan pesan antar dari market place, menjual biji kopinya, dan kemudian jual kopi menu kemasan 250 cc sampai 1 liter, bisa melalu direct whatsapp dari Instagram @somacoffeeindonesia

Namun, saat ini sudah buka, tapi hanya dari pukul 07.00 WIB -18.00 WIB setiap hari. Jika suasana sudah normal mereka akan kembali ke jam buka awal.

“Kedepannya, kami sebenarnya sudah ada investor yang berminat, untuk membuka outlet baru. Karena tidak perlu besar, tapi banyak dan pemerintah pun sangat mendukung UMKM, jadi ada juga nanti desain gerobak khusus cold brew atau khusus untuk pameran, tapi jumlah outlet ingin kami kembangkan.” tutup Marcel mengakhiri wawancara.

GET THE BEST APPS IN YOUR INBOX

Don't worry we don't spam

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Coffeetimes.id
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0