Harga Kopi Anjlok, Sistem Resi Gudang Bisa Jadi Solusi!

SaveSavedRemoved 0

Pandemi Covid-19 banyak membuat usaha terhambat, mulai dari hulu ke hilir. Harga kopi pun ikut terkena imbasnya. Tapi sistem resi gudang jadi solusi saat harga kopi turun!

Penurunan harga kopi Arabika Gayo serta terbatasnya ekspor komoditi unggulan asal Dataran Tinggi Gayo (DTG), membuat petani kebingungan menjual hasil kebunnya. Ditambah lagi, daya beli kopi arabika seakan terjun bebas sejak pandemi Covid-19 melanda dunia.

Hingga kini, harga kopi Arabika Gayo pun tak terkendali, bahkan untuk sementara banyak pembeli yang berhenti membeli akibat tak tahu harus menjualnya ke mana.

Sistem resi gudang jadi solusi terbaik saat ini!

Oleh sebab itu, sebagian kelompok tani berinisiatif menyimpan kopi Arabikanya di resi gudang. Direktur Ramung Institute, Waladan Yoga dilansir dari ajnn.net pun menilai Sistem Resi Gudang (SRG) jadi salah satu solusi terbaik ketika harga komoditi kopi turun.

Menurut Yoga, saat harga kopi turun, maka kopi yang disimpan melalui resi gudang, saat harganya stabil, barang tersebut bisa dijual kembali.

Salah satu pengelola resi gudang kopi Arabika, Rahmah dilansir dari Serambinews.com, mengatakan ada sekitar 10 kelompok tani yang menyimpan kopi Arabika di Resi Gudang Takengon.

“Jumlah kopi arabika yang ada di resi gudang, sebanyak 140 ton, milik 10 kelompok tani,” kata Rahmah.

Menurut Rahmah, keberadaan Resi Gudang, bisa jadi alternatif bagi kelompok tani menyimpan kopi arabikanya di tengah kondisi menurunnya harga kopi akibat virus Corona.

Namun menyimpan kopi di resi gudang tidak bisa sembarang kopi, karena memang penyimpanan yang dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Tentu untuk menyimpan kopi di Resi Gudang, ada ketentuan serta mekanisme yang mengatur. Intinya, untuk kopi Arabika Gayo, tidak kita persulit sepanjang memenuhi syarat,” jelas Rahmah.

Perlu ada syarat yang harus dipenuhi!

Persyaratan agar kopi bisa masuk dalam resi gudang, sudah diatur dalam UU Perbankan serta aturan dari kementerian.

“Soal syarat, silahkan ajukan ke Kementerian, serta kepada pihak Bank, siapa tahu dalam situasi sekarang ini, ada kemudahan. Kita berharap, agar masalah virus Corona ini bisa segera berakhir, agar ekonomi masyarakat bisa membaik,” harapnya.

Beberapa syarat yang harus dipenuhi sesuai dengan peraturan perundang-perundangan, salah satunya harus melalui kelompok tani.

Kopi harus dalam kondisi yang ready eksport atau sudah benar-benar kering karena akan disimpan dalam waktu lama.

Selain itu, kopi Arabika yang disimpan dalam Resi Gudang, harus melewati tes cupping (uji rasa) agar memastikan kopi yang disimpan benar-benar berkualitas eksport atau bukan.

“Pihak Bank juga, akan memastikan kopi yang disimpan, selain kadar airnya sudah kering, serta kualitasnya baik. Itu, sudah aturan baku. Jadi tidak semua kopi bisa masuk,” tambah Rahmah.

Dia pun menjelaskan, cenderung para petani menjual kopi gelondong atau biji merah kepada para pedagang pengumpul, maka hampir bisa dipastikan, pemilik stok biji ijo atau ready eksport, adanya di kalangan pedagang pengumpul.

“Apalagi sekarang, sebagian daerah sudah di penghujung masa panen. Tentu, sudah tidak banyak lagi petani yang menjual,” pungkasnya.

Coffee preneur dari Aceh Tengah, Zam-Zam Mubarak dilansir dari lintasgayo.co pun berpendapat agar Bupati dan DPRK segera melakukan aksi sosialisasi optimalisasi Resi Gudang ini demi menghadapi gejolak pasar yang belum bisa dipastikan berakhir ini.

Memang sebelumnya sejumlah petani kopi serta pedagang mendatangi gedung DPRK, mengadukan turunnya harga kopi Arabika serta sulitnya pembeli kopi.

Pemkab Aceh Tengah pun sudah menjadwalkan pertemuan dengan sejumlah stakeholder untuk membahas nasib kopi Arabika Gayo.

Harga Kopi Anjlok, Sistem Resi Gudang Bisa Jadi Solusi!
Harga Kopi Anjlok, Sistem Resi Gudang Bisa Jadi Solusi!
We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Coffeetimes.id
Register New Account
Name (wajib)
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0