Marcel Irwanto: Membina Petani itu Menarik, Banyak Tantangannya!

Bicara SOMA Coffee, tidak lengkap jika tanpa mendengar cerita dari sosok hebat dibelakangnya. Dia adalah Marcel Irwanto SOMA Coffee, Direktur Utama sekaligus Founder dari SOMA Coffee!

Saat ditemui tim Coffeetimes.id di gerai SOMA Coffee GBK Akuatik, pria kelahiran Jakarta, 18 Januari 1967 ini menyambut kami dengan sangat ramah.

Usai bercerita tentang SOMA Coffee, pria yang biasa disapa dengan Marcel ini bercerita tentang bagaimana awalnya dia bisa bergabung dengan bisnis di industri kopi, sementara dirinya mengaku bekerja di bidang retail yaitu mengelola beberapa mall di daerah.

Marcel Irwanto SOMA Coffee: membina petani itu menarik!

Pria lulusan Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung ini awalnya hanya sebagai pengamat saja. Dirinya bercerita bahwa Javanero awalnya dibangun oleh dua temannya terlebih dahulu dan salah satunya berada di Singapura.

Namun, selama berjalannya waktu, Marcel semakin tertarik dan akhirnya baru terlibat setelah membuat SOMA Coffee ini, berdasarkan backgroundnya yang masih bekerja di bisnis retail, kedua temannya tadi mengajak Marcel ikut bergabung.

“Dengan background saya di retail, teman saya itu pun mengajak saya untuk membangun SOMA Coffee ini. Sebenarnya dari awal Javanero itu saya sudah ingin terlibat, karena tertarik untuk membina petani yang banyak tantangannya.”tutur Marcel sambil tersenyum

Berjuang untuk membina petani kopi!

Ketertarikan Marcel untuk membina petani bukan tanpa alasan, dirinya mengaku ingin meningkatkan kualitas sekaligus kuantitas produksi kopi itu sendiri.

“Konsumsi kopi di Indonesia saja, kita baru kira-kira 750 gram per orang, per tahun. Bandingkan dengan Finland yang tertinggi 12 kilo per orang per tahun, jadi artinya jika kita ingin meningkatkan produksi kopi jadi 1,5 atau 2 kilo akan sangat luar biasa,” ungkapnya bersemangat

Baca Juga: Mau Nikmati Kopi Terbaik? SOMA Coffee Tempatnya

Marcel pun menambahkan persoalannya saat ini 94 persen adalah perkebunan milik rakyat dan 6 persen baru perkebunan yang digarap oleh pemerintah dan perusahaan besar.

“Dengan begitu kesulitan kita adalah adanya tanaman selang di antara kopi, karena tujuan perkebunan rakyat itu hanya melindungi hutan lindung dari pencurian, pembalakan liar dan sebagainya. Sehingga mereka ditugaskan menjaga, tapi sambil menjaga mereka bisa garap dan bagi hasil.” jelasnya

Oleh karena itu ada banyak tantangan untuk meningkatkan kapasitas, baik secara intensifikasi (pengembangan di lahan) maupun ekstensifikasi (penambahan lahan).

Lebih lanjut Marcel pun bercerita tentang konsep panen buah kopi berwarna merah saja. Menurutnya cara tersebut bisa menyelamatkan kualitas sekaligus jumlah produksinya itu sendiri.

“Saat memanen kopi itu harus panen buah ceri merahnya/ red cherry-nya saja, kenapa harus yang merah, bukan yang hijau? karena saat memetik yang sudah merah maka pohon akan langsung memunculkan kira-kira 2 sampai 3 tunas baru. Sehingga langsung menambah produksi per pohonnya, tapi jika memetik yang hijau, itu akan mematikan tunas tadi dan akan muncul di tahun depan. Itulah yang menghambat proses produksinya” jelas Marcel lagi

Baca Juga: Mengenal Kopi Napu Poso, Kopi yang Disukai Orang Jawa

Dengan berbekal pengetahuan tersebut, Marcel beserta timnya ingin terus menanamkan pada petani agar kualitas panen mereka terus meningkat dan hasilnya terus membaik.

Javanero pun sempat membuat gerakan ‘peti merah’, yang telah di adopsi Pemerintah Jawa Barat, untuk mengajak para petani kopi agar hanya memetik buah ceri yang berwarna merah saja.

Mengembangkan kopi tidak bisa setengah-setengah!

Marcel pun memberikan saran, bagi yang ingin menjalani bisnis kopi maka buatlah produksi kopi yang bagus, yaitu harus sustainable atau harus ada berkelanjutan.

Untuk bisa berkelanjutan maka harus layak telusur, jadi orang akan mengetahui asal kopi yang ada, jadi bisa ditelusuri produksi kopi dari siapa, tanggal berapa dan dari area mana.

“Bisa ditelusuri itu berguna untuk memeriksa saat ada kualitas kopi yang kurang baik atau ada keluhan dari pelanggan bisa ditelusuri pada saat itu seperti apa proses kopinya, dan sebagainya.” Jelas Marcel

Selama 4 tahun berkecimpung di dunia perkopian, kesulitan mengelola kebun kopi yang paling dirasakan Marcel adalah pencurian. Pasalnya, dahulu banyak penampung, namun saat ini dengan sistem tersebut (bisa ditelusuri) penampung justru jadi bagian dari rantai pasukan industrinya.

“jadi mereka itu sudah tidak lagi menampung hasil curian, maka otomatis petani terbantu dengan semakin lama meningkatkan kualitasnya, harga pun semakin naik. Dulu mereka hanya bisa produksi 600 kilo per hektar, sekarang bisa mendekati 750-800 kilo per hektar,” ungkapnya bangga

Sementara, Marcel pun bercerita tentang Brazil yang memiliki kapasitas produksi kopi mencapai hampir 4-5 ton per hektar, Vietnam yang pada tahun 80-an datang ke Indonesia untuk belajar kopi, saat ini kapasitas produksinya meningkat 2,5 ton per hektar dan indonesia masih ada di posisi ke 4.

Baca Juga: Asal Mula “Kopi Bergendal”, Kopi Arabika khas Aceh

“Itu kenapa saya tertarik, agar bisa membantu daya jual, jadi harganya meningkat dan dari kapasitas produksinya pun meningkat. Kalau kita menjual kopi bagus, tentu hasilnya pun akan bagus.” tambahnya

Bagi Marcel di tempat lain misalnya, bisa gunakan kopi jenis robusta, tapi di tempatnya khusus menggunakan arabika. Memang di tempat lain bisa lebih murah, dan di tempatnya harga kurang bersaing, tapi arabika memang punya kualitas yang sesuai dengan harganya.

Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk robusta juga dikembangkan, hanya saja Marcel dan timnya belum menemukan sumber robusta terbaik.

“Kami juga sedang mencari untuk robusta, karena kami memang belum membantu petani yang robusta, belum menemukan sumber kopi untuk robusta yang terbaik, walau spesialisasi kami arabika.” pungkasnya.

GET THE BEST APPS IN YOUR INBOX

Don't worry we don't spam

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Coffeetimes.id
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0