Thursday, June 4, 2020

Hadapi Covid-19, Kementan dan Kemenperin Terima Masukan Penggiat Kopi!

HEADLINE

Tekan Dampak Covid-19, Kemenperin Siapkan Stimulus untuk IKM Kopi

Dampak pandemi COVID-19 membuat masyarakat mengubah pola aktivitas dalam kehidupannya sehari-hari, termasuk dalam pembelian kopi yang selama ini sudah...

Hadapi Covid-19, Kementan dan Kemenperin Terima Masukan Penggiat Kopi!

Menghadapi pandemi Covid-19, SCAI dengan Kementan dan Kemenperin terima masukan penggiat kopi dalam rangka mencari solusi usaha perkopian di...

Coffee Live Talk SCAI: Cari Solusi Di Hulu – Hilir Atasi Dampak Covid-19

Covid-19 tidak menghentikan untuk saling berbagi informasi, seperti Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) bekerja sama dengan coffeetimes.id menggelar...

Menghadapi pandemi Covid-19, SCAI dengan Kementan dan Kemenperin terima masukan penggiat kopi dalam rangka mencari solusi usaha perkopian di Indonesia!

Pada diskusi terbatas Serial Coffee Live Talks yang diadakan oleh SCAI dan Coffeetimes.id, dengan tema “Strategi mencari solusi usaha perkopian di hulu – hilir mengatasi dampak Covid-19” membahas seputar industri kopi mulai dari perkebunan hingga ke coffee shop dalam suasana pendemi seperti saat ini.

Dihadiri oleh Syafrudin selaku Ketua SCAI sekaligus pembawa acara, serta sejumlah pembicara yang ahli di bidang mereka masing-masing.

Dihadiri pula oleh Ketua Dewan Pembina SCAI, Delima Hasri Dermawan, Direktur PPHP Ditjenbun Kementerian Pertanian (Kementan), Ir. Dedi Junaedi, Direktur Mintemgar, Dirjen Industri Argo, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Ir. Supriadi , Ketua koperasi Baburrayan Takengon, Rizwan Husein serta roaster dan coffee shop, Dialog Coffee Balikpapan, Hans Suke.

Memang semua lini terdampak akibat kejadian wabah yang luar biasa ini. Arus perdagangan terutama kopi pun jadi ikut terganggu, baik itu eksport atau import.

Masukan Penggiat Kopi

Pada sesi akhir, perbincangan live talks dibuka sesi tanya jawab, ada pertanyaan dari Ketua Dewan Pembina SCAI, Delima Hasri tentang persiapan fasilitas Kementerian akibat dari pandemi seperti alat pengolahan atau alat processing.

Ditanggapi oleh Dedi Junaedi, Direktur PPHP Ditjenbun, Kementerian Pertanian, “Ditjen-Bun sudah menyiapkan jaring pengaman, bantuan HOK 4 juta per hektar, bantuan pasca panen maupun UPH, namun tidak banyak akibat terbatas dana APBN,” tuturnya

Selain itu juga memberikan bantuan alsintan, dan implementasi Kredit Usaha Rakyat, bekerjasama dengan KUKM Kementan memberikan bantuan ke mitra – mitra UKM.

Sementara tanggapan dari Supriyadi, Direktur Mintemgar, Ditjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian bahwa ada pengurangan anggaran untuk Ditjen Agro Kemenperin.

“Namun anggaran ditambah untuk Ditjen IKM, ada anggaran dari Ditjen IKM dipersiapkan untuk penumbuhan wirausaha baru seperti roastery, coffee shop, perkembangan produk dan sertifikasi kopi, serta uji cita rasa kopi,” ungkapnya

Sejumlah UKM akan diprioritaskan untuk melakukan peningkatan kompetensi SDM, melakukan kerja sama antara SCAI dengan DitMintemgar usai pandemi dan Mintemgar menyiapkan bantuan edukasi, pembinaan cafe dan kebun dalam memproses kopi, serta kerja sama dengan para pelaku kopi di daerah.

Ada pula peserta yang memberi masukan kepada Kementan dan Kemenperin terutama dari pihak Pemerintah tentang tingkat fleksibilitas petugas keamanan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Aparat keamanan diharapkan fleksibel bagi pelanggan take away!

Krisna Galih dari Balikpapan mengeluhkan aparat yang bertugas untuk melakukan pengamanan terkait PSBB terlalu berlebihan saat melihat antrian di kedai kopi atau coffee shop yang sebenarnya hanya melayani take away.

“Kami masih berharap take away bisa berjalan, tapi saat pemesanan pelanggan pasti butuh menunggu. Saat terjadi antrian itulah yang dikira sebagai kegiatan kumpul-kumpul,” ungkap Krisna

Sudah daya beli menurun akibat Covid-19, pelanggan yang seharusnya hanya menunggu untuk pesanan take away pun harus dibubarkan.

Krisna pun memberi masukan agar diberikan edukasi tentang kegiatan coffee shop yang melayani take away, jadi selanjutnya bisa lebih fleksibel bagi aparat di lapangan.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina SCAI ikut memberi saran agar dibentuk sistem, agar pelanggan yang akan melakukan take away tidak perlu mengantri dan tak terjadi penumpukan antrian.

Jadi pelanggan usai memesan, akan diberi estimasi waktu pesanan kopinya selesai, barulah pelanggan bisa mengambilnya saat kopi sudah mau selesai dibuat.

Selain itu, Delima menyarankan agar bisa terjadi PPHBUN Kementan melakukan diskusi internal mengenai penyediaan kopi untuk tenaga medis, polisi & tentara yang berjaga selama Covid-19.

- Advertisement -

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
- Advertisement -

POPULER

Mengenal Kopi Kalosi Enrekang, Keistimewaan hingga Faktanya!

Kopi punya ragam jenisnya, salah satu yang patut diketahui terutama para pecinta kopi, adalah dengan mengenal kopi Kalosi Enrekang...

Asal Usul dan Karakter Kopi Toraja, Kopi Unggulan Nusantara

Indonesia merupakan negara kaya akan jenis dan varian kopi. Dari deretan tanaman kopi yang tumbuh di tanah Indonesia, Kopi Toraja adalah salah satu kopi...

6 Kedai Kopi Menarik di Toraja, Jualan di Mobil Hingga Atas Awan!

Kopi Toraja adalah salah satu kopi yang terkenal dari Indonesia. Maka tak heran jika ada kedai kopi menarik di Toraja yang berjualan menggunakan mobil...

Mengenal Apa Itu Specialty Coffee dan Persyaratannya

Apa yang membuat aroma dan rasa secangkir specialty coffee begitu istimewa? Dibalik secangkir minuman beraroma harum ini, ada sebuah perjalanan panjang menuju kesempurnaan. Kopi spesialty...

Manfaat Baik Cascara, Minuman Dari Kulit Biji Kopi!

Mungkin Anda saat melihat kulit biji kopi atau cascara, selalu ingin membuangnya karena dianggap tak berguna. Padahal ada manfaat baik cascara yang bisa Anda...
- Advertisement -

BERITA TERKAIT