Coffee Talkshow: Kopi Produksi Sumsel Kok Dibranding Tetangga?

SaveSavedRemoved 0

Dalam rangkaian acara penutup Sriwijaya Coffee and Culinary Festival di Pulau Cempako Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Senin, (27/9) diadakan coffee talkshow yang membahas tentang strategi kopi Sumsel ke depannya.

Talkshow yang dilaksanakan secara Offline dan Online live streaming di Youtube dan Instagram Pesona Sriwijaya tersebut bertajuk “Strategi Meningkatkan dan Mengembangkan Kopi Sumsel ke Pasar Domestik dan Internasional”

Sebagai narasumber ada Aufa Syahrizal, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Sumsel, M. Zain Ismed, Ketua Dewan Kopi Prov. Sumsel, A.Syafrudin, First Vice President ASEAN Coffee Federation dan Pembina SCAI, Syahriza Ujang, Petani kopi/ Master Trainer Kopi Sumsel dan Herlan Safiudin, Ketua DPD ASKI Sumsel.

Menurut Syafrudin, kopi Sumsel sudah berkualitas namun kualitas tersebut tetap perlu terus ditingkatkan, karena memang Sumsel merupakan penghasil kopi terbesar hampir 30% berasal dari Sumsel.

“Namun, yang sangat disayangkan kopi yang diproduksi di Sumsel tapi masih atas namanya atas nama tetangga, seperti ada kopi Lampung itu sebenarnya kopi Sumsel, jadi kopi itu tidak pernah disebut kopi Sumsel, itulah PR kita bersama,” tambahnya

Hal itu juga didukung dengan pernyataan Zain Ismed yang juga secara bertahap ikut berperan meningkatkan kualitas terutama pasca panen agar branding kopi Sumsel semakin kuat.

“Selain itu kita juga perlu perbanyak UMKM yang bergerak dibidang kopi agar penyerapan kopi daerah semakin banyak dan UMKM yang ada sekarang bisa naik kelas dengan membuat skalanya semakin besar.” ungkapnya

Sepakat dengan hal tersebut Aufa, Kadis Budparsumsel juga ingin dalam kondisi apapun, semua yang bergerak di bidang kopi khususnya bisa berinovasi dan lebih kreatif.

“Dengan kreatifitas ditambah dengan kolaborasi bersinergi antara lembaga usaha, akademisi, masyarakat dan pemerintah sebagai regulator dan fasilitator maka segalanya bisa tetap berjalan walau dalam kondisi yang perihatin seperti ini.” jelasnya

Memang dalam urusan kopi mulai dari hulu hingga hilir perlu bersinergi dan Syahriza pun menambahkan bahwa kopi di Sumsel seperti pusaka maka perlu dirawat dengan baik.

Herlan, Ketua DPD ASKI Sumsel pun mengingatkan untuk terus mengatur pemasaran kopi Sumsel agar tidak terjadi penurunan harga akibat kuantitas hasil panen yang terlalu banyak.

Festival kopi di Sumsel ini telah berlangsung selama tiga hari sejak tanggal 25 September lalu dan ditutup pada hari ini, selain talkshow khusus untuk event kopi ada pula fun cupping dan workshop manual brew yang bisa disaksikan bersama offline maupun online.

Coffee Talkshow: Kopi Produksi Sumsel Kok Dibranding Tetangga?
Coffee Talkshow: Kopi Produksi Sumsel Kok Dibranding Tetangga?
We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Coffeetimes.id
Register New Account
Name (wajib)
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0